Thursday, July 2, 2015

Ketika Khidir Menjual Diri


Oleh: H. Lulu Ibrohim M.T
Ketika Khidir Menjual Diri (Sedikit Cerita Asal Mula Sang Legenda) – Nama kecil Nabi Khidir adalah Balya, ia mendapat julukan Khidir atai Khadir – berasal dari kata Khudrun artinya hijau – karena di manapun ia pernah duduk atau menginjakan kaki, selalu tumbuh rumput hijau karena tanahnya menjadi subur.

Bapaknya seorang Raja bernama Malkan. Sejak kecil, Balya tidak tinggal di istana bersama bapaknya tetapi dibawa oleh ibunya ke dusun yang jauh dari kota. Ia dibesarkan oleh keluarga ibunya didusun, sehingga bapaknya sendiri tidak mengetahuinya.

Pada suatu hari, raja Malkan mengadakan pertandingan-pertandingan menulis indah.Tujuan pertandingan itu adalah untuk mendapatkan orang yang paling ahli menulis, yang akan di pekerjakan untuk menulis suhuf-suhuf firman Allah. Karena Balya dilihat olehayah angkatnya sangat cerdas dan tulisannya indah, ia di daftarkan sebagai peserta. Pada hari pertama pertandingan semua peserta tak ada yang tidak hadir. Para pembesar-pembesar negara beserta Raja, juga turut menyaksikan. Ternyata peserta yang masih anak-anak hanya Balya sendiri, sedangkan peserta-peserta yang lain adalah orang-orang dewasa.

Tetapi yang paling cepat menyelesaikan tulisan dan paling indah tulisanya adalah Balya.Raja dan semua pejabat-pejabat tinggi kagum akan ketrampilan Balya. Balyapun ditugaskan oleh Raja untuk menulis suhuf-suhuf firman Allah yang menjadi pegangan manusia dalam menuju ridha-Nya.

Sewakt Balya akan menerima hadiah, asal usulnya ditanyakan oleh raja. Ia lantas menerangkan dengan jelas sehingga tahulah Raja bahwa Balya, anak yang mengagumkan itu adalah putranya sendiri. Balya dibujuk oleh Raja supaya tinggal di istana untuk meneruskan tahtanya dikala sudah tua. Tetapi Balya tidak mau.Ketika di hadapannya tersedia kehidupan istana, Balya justru kembali ke dusun bersama ayah angkatnya.


Dalam masa pemerintahan Iskandar Agung Zulkarnain, Balya(Nabi Khidir) di angkat menjadi wazir utama. Konon Raja Zulkarnain pernah didatangi oleh Malaikat, dan ia menggunakan kesempatan itu bertanya(pada Malaikat) tentang jalan yang bisa ditempuh oleh manusia supaya tidak mati sampai hari kiamat. Malaikat menceritakan bahwa ada Ma ul hayat ( air kehidupan ). Siapa saja yang dapat meminumnya walaupun sedikit, dia tidak akan mati, kecuali nanti waktu sangkakala sudah ditiup. Raja sangat tertarik. Ia menanyakan dimana air itu berada. Kemudian Malaikat menjelaskan bahwa tempatnya adalah di daerah kutub, sangat samar, hampir dikatakan gelap.

Oleh karena itu, Raja menyiapkan kendaraan yang sanggup berjalan ditempat yang gelap, yaitu kuda. Berangkatlah ia bersama pejabat-pejabat tinggi kerajaan, termasuk Nabi Khidir, menuju daerah kutub. Di sepanjang jalan yang dilalui, batu putih ditaburkan untuk menuntun jalan pulang. Sampai ditempat tujuan, rombongan terpencar menurut dugaan masing-masing di mana ma ul hayat berada. Ada yang ke timur ada yang ke barat, ada yang ke utara ada pula yang selatan. Semua giat mencari dengan harapan akan menemukan air itu. Tetapi yang berhasil hanya seorang, yaitu Nabi Khidir. Selainya, termasuk Raja Zulkarnain, sampai jemu berkeliling pun tidak ada yang berhasil menemukannya. Nabi Khidir setelah menemukan/mendapat maul hayat dan meminumnya, kembalilah ia ke pos pertemuan. Rombongan yang lainpun kembali satu persatu setelah merasa putus asa karena tak bisa menemukan air tersebut. Akhirnya semua anggota rombongan berkumpul, lalu kembali pulang. Itulah sebabnya Nabi Khidir masih akan tetap hidup sampa sangkakala pertama ditiup.

Di riwayatkan dalam kitab hadits, bahwa Nabi Khidir pernah berdiri di pasar umat Bani Israil. Ia menampakan diri sebagi orang tua. Tiba-tiba datanglah seorang budak mukatab (budak yang di suruh menebus dirinya supaya merdeka). Budak itu sudah menyusuri setiap jengkal tanah dipasar tersebut, meminta sedekah untuk menebus dirinya, tetapi belum juga nenperoleh uang yang cukup. Dia memberi salam kepada Nabi Khidir yang di lihatnya saleh sekali –ia tidak tahu bahwa itu Nabi Khidir—Dia mohon sedekah, katanya, “Saya mohon sedekah, saya adalah budak mukatab.” Saya tidak punya apa-apa untuk disedekahkan kepadamu.” Jawab Nabi Khidir. “Tolong, berilah saya sedekah dengan kemurahan Allah.” “Saya tidak punya apa-apa untuk kuberikan kepadamu.” Nabi Khidir memang tidak punya apa-apa untuk disedekahkan.Akan tetapi orang itu memohon lagi, “Dengan kemurahan Allah,saya mohon, berilah saya sedekah.”

Nabi Khidir merasa berat untuk tidak memenuhi permintaan yang menyebut kemurahan Allah. Oleh karena itu ia menawarkan dirinya untuk dijual, di jadikan budak. Katanya, “Ambilah diriku, bawa aku kepasar budak. Jual aku disana. Berapapun harga penjualanku, itulah uangmu.” “Apa kau sungguh-sungguh?” tanya budak mukatab itu “Demi Allah aku tidak main-main.”

Nabi Khidir dibawa oleh budak itu ke pasar budak untuk dijual. Di tempat itu banyak budak laki-laki dan perempuan yang sedang di perjual belikan. Nabi Khidir segera ditawar oleh seorang saudagar kaya. Kepadanya, Nabi Khidir berkata, “Kalua tuan membutuhkan tenaga, saya tidak akan menguntungkan tuan karena saya sudah tua. Tetapi kalau tuan membutuhkan kejujuran, insya Allah saya tidak akan mengecewakan.”

Nabi Khidir pun laku dengan harga 400 dirham. Adapun mukatab itu dapat menebus dirinya sehingga merdekalah ia. Di rumah tuanya, Nabi Khidir yang sudah menjadi budak itu tidak pernah di suruh bekerja. Bahkan, meski ia sendiri yang meminta pekerjaan, tuanya tidak pernah mengizinkan. Rupanya, melihat kondisi Nabi Khidir yang sudah tua, tuanya tak sampai hati menyuruhnya bekerja.
Pada suatu hari Nabi Khidir berkata, “Tuan, supaya tuan tidak rugi membeli saya, berikan saya tugas. Adakah pekerjaan yang bisa saya lakukan?.”

Majikannya menjawab, “Tidak ada pekerjaan ringan, yang ada pekerjaan berat, yaitu (1) [Abu Hurairah telah memberitahukan kepada kami bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Ia dinamai Khidir karena ia duduk dengan memakai pakaian dari bulu onta berwarna putih di mana jika kain itu bergoyang maka di bawahnya akan tampak berna warna hijau (khadra).”] (1) mengumpulkan batu-batu untuk dasar bangunan. Tetapi saya sudah menyiapkan cukup uang untuk itu. Saya pun sudah menyewa banyak tenaga. Bapak sudah tua, tinggal ibadah saja, tak perlu bekerja.”

Nabi Khiddir tidak menggubris ucapan majikannya. Ia mengumpulkan batu sebanyak yang dibutuhkan sang majikan secara diam-diam. Tapi lama kelamaan majikannya tahu juga. Melihat batu-batu besar sudah tertumpuk, kontan saja sang majikan mersa heran karena hasil kerjaan tersebut tidak sesuai dengan kemampuan orang setua Nabi Khidir. Majikan itu mulai berfikir bahwa orang tua itu bukan sembarang orang, tetapi orng luar biasa.

Tidak lama sesudah itu, saudagar itu ingin pergi berdagang ke negeri sebrang, biasanya, sampai berbulan-bulan baru bisa pulang. Kepada Nabi Khidir dia berpesan untuk menjaga keluarga serta rumah baik-baik; jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Nabi Khidir tetap saja meminta tugas kepada tuannya. Tetapi tuannya mengatakan, pekerjaan untuknya tidak ada, tugasnya Cuma menjaga rumah saja. Sedangkan rumah yang hendak dibangunnya sudah diserahkan kepada para tukang yang akan diupahnya nanti setelah pulang berniaga.

Dengan penuh keyakinan akan kejujuran budaknya yang tua untuk menjaga keluarganya dengan baik, sang majikan berangkat berniaga menyebrangi lautan lepas. Nabi Khidir yang sehari-harinya tinggal dirumah sudh mengetahui kondisi rumah yang sesuai dengan selera tuannya. Dari tempatnya, ukurannya, jumlah ruangannya, pintu dan jendelanya, hingga detil terkecil sebuah rumah idaman di mata majikannya. Dan sebelum dikerjakan para tukan, Nabi Khidir mengerjakannya sendirian. Hanya beberpa hari saja rumah itu selesai.


Waktu majikannya pulang, dia heran melihat ada rumah yang sangat sesuai dengan keinginannya. Dia bertanya siapa yang membuat, Nabi Khidir menjelaskan bahwa rumah itu ia sendiri yang membangunnya. Tuannya semakin yakin bahwa orang tua yang menjadi budaknya itu bukan sembarang orang. Orang yang mampu membuat keajaiban tentulah orang besar yang memiliki derajat tinggi di sisi Allah. Dia mendesak supaya budaknya yang tua itu menjelaskan dirinya sebenarnya. Setelah terus-terusan di desak orang tua itupun menerangkan bahwa ia adalah Nabi Khidir. Ia menceritakan pula kenapa ia dijual menjadi budak. Mengetahui hal itu, segera saja majikannya memohon ampun lalu memerdekannya.
Disqus Comments