Thursday, July 2, 2015

Jalan Spiritual Seorang Flamboyan


Jalan Spiritual Seorang Flamboyan -  Sebagai seorang Raja besar di Balkha, di istananya pun Ibrahim bin Adham selalu mendapat pengawalan, semua gerbang istana selalu dijaga ketat. Apabila kalau ia akan pergi berkunjung ke suatu daerah, tidak kurang dari 40 orang punggawa bersenjata pedang emas dan tongkat emas mengawalnya. Ia di kawal dari depan dari samping kanan dan kiri juga belakang. Pakaian kebesarannya  terbuat dari sutra yang sangat indah. Mahkota emas bertahta cahaya yang cahanya berkilauan, yang selalu ia pakai kemana saja ia pergi, semakin menegaskan kebesaranya.

Pada suatu malam ketika ia sedang tidur, atap kamarnya terdengar berderak, seperti ada yang menginjak.

“Siapa berjalan diatas atap?” selidik Ibrahim pada sumber suara. “Saya seorang sahabatmu sedang mencari unta saya yang hilang,” jawab orang yang diatas atap sayup-sayup. “Mencari unta?, gila kamu, apa mungkin unta ada di atap rumah?”. “Yang gila itu adalah engkau, engkau mencari ridha Allah tetapi pakaianmu sutra, mahkotamu emas, pengawalmu pedang emas dan tongkat emas. Apakah disitu ada ridha Allah? Dipan tempat tidurmu berlapis emas, apa di situ ada ridha Allah?”

Mulut Ibrahim seakan terkunci. Hatinya gelisah. Jawaban orang itu sangat tepat, tajam mencap ulu  hatinya.

Besok harinya ia mengadakan sidang di istana. Seperti biasa, dengan pengawalan ketat ia diantar ke singgasana. Para pembesar dan petinggi negara memberi hormat.

Ibrahim belum lagi duduk di kursi kebesarannya, ketika seorang laki-laki berwajah seram datang tiba-tiba, langsung mengucap salam. Semua pembesar merasa ngeri. Tak seorangpun berani menegur lelaki itu.

“Siapa engkau dan siapa yang engkau cari?” Ibrahim menyambut laki-laki yang tak diundang itu dengan pertanyaan. “Baru kali ini saya sampai dipersinggahan ini. Tempat peristirahatan sementara dalam perjalanan.” Jawabnya tanpa menghiraukan sopan santun di depan raja.

“Ini bukan persinggahan para kafilah yang kelelahan. Ini adalah istanaku,” bentak Ibrahim merasa terhina. “Istanamu? Sebelum engkau, siapa yang menempatinya?”.
“Bapakku”
“sebelum bapakmu, siapa yang punya?”
“kakekku”
“Sebelum kakekmu?”
“Bapak dari kakekku”
“Sekarang mereka ada di mana?”
“Mereka sudah meninggal dunia.”
“Berarti tepat benar: tempat ini adalah persinggahan sementara saja. Nanti sebentar lagi engkau juga akan meninggalkannya.”

Kemudian orang itu hilang. Rupanya, orang itu tidak lain dari Nabi Khidir yang datang memberinya nasihat agar menyadari bahwa kehidupan dunia ini fana belaka, bukan tujuan utama setiap manusia beriman.

Pada suatu hari Ibrahim pergi berburu bersama pasukan yang cukup banyak. Di tepi hutan, tiba-tiba saja kudanya tak bisa dikendalikan, lari kencang-kencang dan memisahkannya dari rombongan. Di tempat sunyi itu, Ibrahim mendengar suara yang sangat jelas, “Hai Ibrahim bangunlah!”

Ia tidak menghiraukan suara itu, sampai berulang buat yang ke empat kali, sampai pada sebuah ancaman “Hai Ibrahim, bangun sebelum aku cambuk.” Barulah ia menoleh. Tampak seekor  rusa. Ia heran dan bingung. Dalam hatinya berkata: “Rusa? Binatang inikah yang mengancamku?”

Kemudian timbulah niat untuk menangkapnya. Rusa itu, rupanya bisa menangkap gerak hati Ibrahim, katany:”Engkau tidak akan bisa menangkapku. Sebagai seorang Raja, apakah engkau di perintah untuk menangkapku?”

Lalu Ibrahim berpaling dari rusa itu dengan segala kebingunan dan rasa tak percaya, bagaimana mungkin seekor rusa bisa berbicara, tahu isi hatiku pula?, Tanya Ibrahim dalam hatinya. Akan tetapi, pelana kudanya, tali kekangnya, juga berseru dengan jelas, “Bangun Ibrahim! Jangan terlena dengan keindahan dunia ini!”

Ketika itulah ia tersadar, pintu hidayah terbuka, hatinya tergerak  untuk bertaubat dan menyadari kelemahannya di hadapan Allah. Peluh dingin mengalir membasahi tubuh dan pakaiannya. Ia pergi, berbalik haluan istana. Di sebuah padang yang hijau, ia menjuampai seorang penggembala ternak, pakaian dan topinya terbuat dari bulu domba.Setelah ia perhatikan, orang itu ternyata adalah budaknya sendiri. Dan hewan yang banyak itu adalah miliknya.

Lantas ia turun dari kudanya, lalu menukarkan pakaiannya dengan pakaian budaknya yang terbuat dari bulu domba itu. Ia berfikir, “apa arti pakaian megah bagiku kalau badan ini berlumuran dosa.”

Ibrahim berjalan dan terus berjalan hingga akhirnya sampai di sebuah desa yang jauh dari ibu kota kerajaan. Di sebuah jembatan yang tinggi ia melihat seorang laki-laki yang terjatuh. Syaikh Ibrahim sangat kasihan melihatnya. Ia mohon kepada Allah untuk memelihara orang itu. Dan dengan kuasa Allah orang itu tertahan di udara tidak jatuh ke dasar sungai, sampai orang banyak datang mengambilnya.


Orang-orang yang menyaksikan kejadian itu sangat kagum pada karamah Ibrahim. Di desa itu ia sudah di segani dan di mulyakan orang-orang. Karena itulah, dengan diam-diam, ia meninggalkan tempat tersebut. Akhirnya Ibrahim sampai di Nisapur, ditempat inilah ia menemukan sebuah gua. Gua tersebut mempunyai 3 ruangan. Tiap ruangan ditempatinya selama 3 tahun. Ketika tinggal di Gua inilah, Syaikh Ibrahim betul-betul mengabdikan diri sepenuhnya, lahir bathinnya kepada Allah.
Disqus Comments